Koloid Adalah

Pengertian Koloid, Jenis, Sifat, Cara Pembuatan, Contohnya

Diposting pada

Koloid merupakan istilah yang tidak asing dalam kimia yang banyak terdapat di alam dan bisa juga diproduksi secara sintetis. Koloid ini memiliki aplikasi industri yang sangat luas sehingga penting untuk memiliki sistem yang tepat dalam klasifikasi koloid.

Setiap koloid memiliki sifat berbeda berdasarkan fase terdispersi dan mediumnya. Dalam artikel ini akan dibahas lebih lengkap mengenai pengertian koloid, jenis koloid, sifat koloid, cara pembentukan koloid, dan contohnya.

Koloid Adalah

Koloid

Istilah koloid muncul pada abad ke-19 oleh ahli kimia fisika bernama Thomas Graham. Dia melakukan eksperimen pada bahan-bahan dalam larutan air yang tidak dapat melalui suatu membran. Salah satu bahan tersebut adalah lem yang ternyata tidak mau melewati membran tersebut.

Sedangkan larutan garam dan zat kristal lain ternyata mampu melewati membran kecil yang tersedia. Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk koloid sehingga telah dirasakan bagaimana pentingnya koloid untuk proses industri dan biokimia.

Koloid juga sering disebut sebagai fasa keempat dimana kita ketahui bahwa di dunia ini terdapat 3 fasa zat yaitu cair, gas, dan padat. Dalam sistem koloid ini terdapat kemungkinan 3 jenis zat (gas, cair, dan padat) yang dapat berinteraksi di dalamnya untuk bergabung membentuk suatu sistem koloid tertentu.

Dalam zat gas memiliki sifat partikel yang bergerak bebas namun dibatasi oleh dinding. Dalam cairan, partikel kadang saling berikatan namun kadang juga tidak, namun selalu menempati volume tertentu. Dalam zat padat, partikel tidak bisa bergerak bebas hanya dapat bergetar saja. Banyak zat yang dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat ini dalam sistem koloid sederhana.

Pengertian Koloid

Koloid adalah suatu campuran dimana satu substansi partikel yang tidak larut terdispersi secara mikroskopik terhadap zat yang lain. Istilah koloid sendiri mengacu pada keseluruan campuran dimana dalam satu campuran terdapat fase terdispersi dan medium pendispersi.

Tidak seperti larutan yang zat terlarut dan pelarutnya hanya terdiri dari satu fase (cair), suatu koloid memiliki fase terdispersi dan media pendispersi yang dapat berbeda fase. Untuk memenuhi syarat sebagai koloid, campuran tersebut haruslah yang tidak mengendap atau sangat sulit untuk mengendap sehingga dikatakan terlihat sebagai campuran yang homogen.

Partikel terdispersi memiliki diameter antara 1-1000 nanometer dimana partikel seperti itu pada umumnya mudah terlihat secara mikroskopik namun sulit terlihat secara makroskopik. Campuran homogen antara fase terdispersi dalam kisaran ukuran tersebut dapat disebut sebagai koloid aerosol, koloid emulsi, koloid busa, koloid dispersi atau hidrosol.

Jenis Koloid

Suatu sistem koloid dapat diklasifikasikan berdasarkan zat yang terlibat didalamnya yaitu fasa terdispersi dan medium pendispersinya.

Berbeda jenis fasa yang terlibat, maka akan menghasilkan sistem koloid yang berbeda dalam sifat maupun perilakunya. Pada dasarnya terdapat 3 jenis fasa terdispersi dan 3 jenis pula medium pendispersi mengacu pada jenis jenis zat yang ada dan diketahui saat ini. Berikut ini merupakan klasifikasi jenis koloid berdasarkan jenis fasa dan contohnya:

Macam Koloid dan Contohnya

Sifat Koloid

Karena memiliki sistem yang berbeda dengan larutan, koloid memiliki beberapa sifat unik yang tidak dimiliki oleh jenis sistem lain. Berikut ini beberapa sifat koloid, diantaranya;

Gerak Brown

Gerak brown merupakan gerakan ke segala arah dengan cepat dan terjadi terus menerus yang terjadi pada suatu partikel dalam sistem koloid. Gerakan ini tidak tergantung pada sifat partikel koloid itu sendiri, namun ketika ukuran partikel lebih kecil dan viskositas medium semakin kecil maka pergerakan partikel akan semakin cepat dan sebaliknya.

Fenomena ini disebabkan oleh adanya bombardir partikel koloid oleh medium pendispersi. Contoh fenomena ini adalah ketika anda mencampurkan susu dengan air sehingga partikel susu akan bergerak terus menerus dalam air.

Efek Tydall

Efek tyndall merupakan fenomena hamburan cahaya oleh partikel koloid ketika suatu cahaya dilewatkan sistem koloid. Hamburan cahaya ini dapat disebabkan oleh hamburan cahaya sederhana karena ukuran partikel yang ada lebih kecil daripada panjang gelombang cahaya tampak yang melewatinya, oleh karena itu suatu sistem koloid tidak dapat memantulkan cahaya namun hanya dapat menghamburkan cahaya yang masuk.

Contoh fenomena ini langit yang berwarna biru pada siang hari karena adanya partikel debu bersama air di atmosfer yang membentuk koloid dan menyebarkan cahaya biru yang berasal dari matahari.

Elektroforesis

Elektroforesis adalah pergerakan partikel pada sistem koloid di dalam suatu medan listrik. Ketika arus listrik dialirkan dalam sistem koloid, maka partikel bermuatan akan bererak menuju elektroda yang berlawanan dan dihasilkan sebagai endapan.

Contoh penerapan sifat ini yaitu pemurnian asam pabrik yang menghilangkan partikel karbon yang bermuatan negatif dari asap yang dilewatkan suatu ruangan yang bermuatan positif.

Adsorpsi

Adsorpsi juga salah satu sifat koloid yang berhubungan dengan muatan dimana pada sifat ini, suatu sistem koloid dapat melakukan penyerapan atau adsorpsi terhadap zat lain yang bermuatan. Hal itu dapat terjadi karena partikel dalam sistem koloid mampu menarik partikel lain yang lebih kecil dan disebabkan oleh adanya tegangan permukaan pada partikel koloid itu sendiri.

Contoh penerapan prinsip ini yaitu pada proses pemurnian air menggunakan tawas dan pengobatan sakit perut dengan menggunakan norit untuk menghilangkan bakteri patogen melalui adsorpsi.

Koagulasi

Koagulasi merupakan fenomena yang menyebabkan terjadinya suatu penggumpalan atau pemadatan pada sistem koloid tertentu. Penggumpalan atau pemadatan itu dapat terjadi secara kimiawi dengan arti reaksi kimia tertentu maupun secara fisika seperti melalui pendinginan atau pemanasan.

Contoh peristiwa koagulasi yang terjadi secara kimiawi yaitu pada penetralan partikel albumin di darah manusia yang disebabkan dengan adanya ion besi (III) atau aluminium (III). Sedangkan untuk proses fisika yaitu contohnya ketika kita memasak telur dimana pada suhu tinggi akan menyebabkan telur memadat.

Koloid Pelindung

Koloid pelindung merupakan tambahan suatu zat ke dalam suatu sistem sehingga tercapai suatu kestabilan yang lebih tinggi.

Dalam aplikasinya, sifat ini banyak digunakan pada pembuatan eskrim yang ditambahkan zat gelatin yang bertujuan untuk menjaga eskrim tetap kenyal. Contoh lain yaitu penambahan kasein pada suhu dan penambahan silikon pada sistem cat.

Dialisis

Dialisis adalah penghilangan partikel bermuatan yang tidak diinginkan dalam koloid dengan melewatkannya pada suatu membran semipermeabel. Membran semipermeabel memiliki suatu pori kecil yang dapat dilewati ion namun tidak dapat dilewati oleh partikel koloid sehingga akan terpisah. Contoh aplikasi ini yaitu pada proses cuci darah dalam bidang medis.

Cara Pembuatan Koloid

Adapun untuk mekanisme dalam pembuatan koloid steep by steep antara lain adalah sebagai berikut;

Secara Kondensasi

Pembuatan koloid secara kondensasi merupakan proses yang menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari zat awal yang kecil. Cara ini dapat dibedakan beberapa macam;

Hidrolisis

Reaksi ini digunakan dalam pembuatan koloid dari suatu garam yang direaksikan secara hidrolisis dengan air. Contohnya pembuatan Fe(OH)3 dari FeCl3.

FeCl(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

Redoks

Redoks merupakan reaksi yang melibatkan oksidasi dan reduksi serta terjadi perubahan bilangan oksidasi pada atom terkait. Contoh reaksi ini yaitu pembuatan sol koloid belerang.

2H2S(g) + SO2(aq) → 2H2O(l) + 3S(s)

Reaksi Pertukaran Ion

Reaksi ini digunakan untuk membuat sistm koloid dari partikel yang mudah mengendap pada suatu reaksi kimia. Contohnya yaitu pembuatan sol koloid As2S3.

3H2S(g) + As2O3(aq) → As2S3(s) + 3H2O(l)

Secara Dispersi

Pembuatan koloid dengan metode dispersi yaitu dilakukan dengan memperkecil partikel yang sebelumnya berukuran lebih besar untuk membentuk sistem koloid.

Mekanik (Dispersi Langsung)

Metode ini merupakan cara membuat sistem koloid dengan menghaluskan atau memperkecil ukuran partikel terdispersi untuk dicampurkan dalam medium pendispersi. Cara ini dilakukan dengan menggerus atau menggiling partikel terdispersi. Contoh proses ini yaitu pembuatan sol belerang yang dihaluskan terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan air.

Peptisasi

Peptisasi adalah proses pemecahan partikel yang berukuran besar dengan suatu zat tertentu. Contohnya yaitu peptisasi pada karet oleh bensin.

Busur Bredig

Busur bredig adalah metode untuk membuat koloid dengan menggunakan partikel logam. Metode ini dilakukan melalui pengaliran arus listrik pada suatu logam dengan elektroda tertentu sehingga akan terjadi percikan bunga api yang kemudian akan terdispersi dalam air menjadi sistem koloid. Contohnya yaitu pembuatan sol koloid emas yang menggunakan pengaliran listrik.

Itulah tadi pengulasan secara lengkapnya terkait dengan pengertian koloid, jenis koloid, sifat koloid, cara pembentukan koloid, dan contohnya. Semoga melalui artikel ini dapat memberikan wawasan serta referensi mendalam bagi pembaca. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *