Contoh Zat Kimia Korosif, Pengoksidasi, Flammable, Piroforik, dan Toksik
Contoh Zat Kimia Korosif, Pengoksidasi, Flammable, Piroforik, dan Toksik

Contoh Zat Kimia Korosif, Pengoksidasi, Flammable, Piroforik, dan Toksik

Diposting pada
Rate this post

Contoh Zat Kimia Korosif, Pengoksidasi, Flammable, Piroforik, dan Toksik

Zat kimia bisa dikatakan sebagai serangkaian jenis bahan kimia yang bisa berbentuk padat, cair, dan gas, serta memiliki sifat yaitu dapat berubah di antara fase materi akibat adanya perubahan suhu dan tekanan. Sehingga dalam hal ini terdapat bermacam-macam zat kimia ditinjau dari sifatnya, diantaranya yaitu zat kimia yang korosif, mudah terbakar, reaktif terhadap air, beracun atau toksik, dan lain-lain dengan masing-masing contohnya.

Hal ini sangat penting. Mengingat beragam zat kimia yang diketahui merupakan komponen penting dalam kehidupan kita sehari-hari, meskipun beberapa zat kimia dapat sangat merusak kesehatan atau lingkungan kita. Penggunaan atau fungsi zat kimia tersebut diantaranya yaitu untuk membuat produk pembersih, makanan, obat, kosmetik.

Zat Kimia

Zat kimia adalah suatu bentuk materi yang mempunyai komposisi kimia dan sifat karakteristik yang konstan. Dimana dalam berbagai jenis zat kimia ini tidak bisa dipisahkan menjadi unsur-unsur penyusunnya dengan menggunakan metode pemisahan fisik tanpa memutuskan ikatan kimia yang ada.

Contoh Zat Kimia

Adapun untuk berbagai contoh zat kimia jikalau dilihat berdasarkan sifatnya terdiri atas korosif, pengoksidasi, (mudah terbakar) flammable, piroforik, dan beracun (toksik). Penjelasan atas hal terbuat, antara lain;

  1. Korosif

Korosif adalah bahan kimia yang menyebabkan luka bakar pada kulit, selaput lendir, dan mata. Luka bakar kimiawi juga dapat terjadi jika jaringan bersentuhan dengan padatan korosif, cairan korosif tersebar di udara sebagai kabut. Dimana zat kimia korosif juga memiliki sifat berbahaya lainnya.

Misalnya, asam perklorat, selain sangat korosif, juga merupakan agen pengoksidasi yang kuat yang dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan.

Oleh sebab itu, fasilitas seperti pencuci mata darurat dan pancuran harus tersedia di laboratorium yang menangani zat kimia yang bersifat korosif karena percikan korosif ke mata dapat menyebabkan hilangnya penglihatan sebagian atau total jika tidak segera dibilas dengan air yang berlebihan.

Zat kimia korosif, baik padat maupun cair, dapat menghasilkan panas dalam jumlah besar jika dicampur dengan air. Ini dapat menyebabkan larutan mendidih atau bahkan meletus dengan hebat. Ketika air ditambahkan ke dalam wadah asam sulfat pekat, air akan langsung diubah menjadi uap yang akan mengeluarkan seluruh isinya ke udara.

Untuk mencegah hal itu selalu tambahkan zat korosif ke dalam air, perlahan-lahan, dalam jumlah kecil, dengan sering diaduk. Selain itu, selalu gunakan alat pelindung diri seperti kacamata pengaman, pelindung wajah, celemek kimia dan sarung tangan berlengan panjang saat menangani bahan kimia korosif.

Contoh zat kimia yang bersifat korosif

Meliputi:

  1. Asam sendawa
  2. Asam sulfur
  3. Kalsium hidroksida
  4. Asam hidrofluorat
  5. Natrium hidroksida
  6. Brom
  1. Pengoksidasi

Zat kimia yang bersifat oksidatif atau disebut dengan oksidator berbahaya karena mendukung pembakaran. Api bisa menyala dengan hebat di apabila bereaksi dengan zat kimia jenis ini. Oleh sebab itu, oksidator harus disimpan jauh dari bahan yang mudah terbakar karena dapat menyulut api jika bersentuhan satu sama lain.

Bahan pengoksidasi yang mulai membusuk pada suhu sedikit di atas suhu ruangan normal harus disimpan jauh di bawah suhu penguraiannya. Perlu kita ingat pula bahwa jangan menggunakan serbuk gergaji atau bahan mudah terbakar lainnya untuk membersihkan tumpahan bahan pengoksidasi.

Contoh zat kimia bersifat pengoksidasi

Meliputi:

  1. Asam sendawa
  2. Asam Perklorat
  3. Permanganat
  4. Amonium Nitrat
  5. Perklorat
  1. Mudah Terbakar (Flammable)

Zat kimia yang mudah terbakar bisa menyebabkan bahaya kebakaran. Semakin rendah titik nyala (suhu terendah di mana bahan bakar cair akan mengeluarkan cukup uap untuk membentuk campuran yang dapat menyala sesaat dengan udara) dari zat kimia tersebut, semakin besar bahayanya.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menangani bahan kimia yang mudah terbakar diantaranya yaitu botol kimia yang mudah terbakar tidak boleh dibiarkan terbuka tanpa tutupnya, dan tidak boleh  jugadisimpan di dekat sumber penyulut.

Selain itu, setelah digunakan janganlah meninggalkan zat kimia di meja laboratorium, tapi harus disimpan di lemari pengaman setelah digunakan, sebab kebakaran di laboratorium dapat dengan mudah lepas kendali jika melibatkan pelarut yang mudah terbakar.

Penting juga untuk kita ingat bahwa simbol bahan kimia yang mudah terbakar tidak boleh dibiarkan terbuka di gelas kimia atau wadah karena dapat dengan mudah melepaskan uap. Uap yang dilepaskan dapat membentuk campuran udara uap yang mudah terbakar yang dapat menyala jika ada sumber penyulutan. Dan jangan pula menyimpan zat kimia mudah terbakar bersama zat kimia pengoksidasi.

Contoh zat kimia yang mudah terbakar

Meliputi:

  1. Aseton
  2. Toluene
  3. Metil alkohol
  1. Piroforik

Piroforik adalah zat kimia yang mengalami penyulutan spontan saat bersentuhan dengan udara. Penanganan dan penggunaan piroforik membutuhkan jas lab tahan api, sarung tangan tahan api, kaca mata pengaman dan pelindung wajah.

Eksperimen yang melibatkan piroforik hanya boleh dilakukan di dalam lemari asam, dan bisa juga menggunakan pelindung portabel perlindungan tambahan. Laboratorium yang menangani bahan kimia piroforik harus memiliki air mancur pencuci mata darurat dan selimut pancuran dan api. Setidaknya dua orang harus hadir di laboratorium setiap kali bahan kimia piroforik ditangani.

Pelarut yang mudah terbakar atau bahan mudah terbakar lainnya tidak boleh disimpan di dalam lemari asam saat bahan kimia piroforik sedang ditangani. Penanganan bahan kimia piroforik tersebut harus selalu dilakukan dalam suasana lembam.

Contoh zat kimia piroforik

Meliputi:

  1. Butil litium
  2. Hidrida diisobutylaluminium
  1. Toksik (Beracun)

Zat beracun adalah zat yang dapat membahayakan seseorang jika masuk ke dalam tubuh. Efek zat kimia beracun ada dua jenis akut dan kronis. Efek akut muncul selama atau segera setelah satu kali terpapar bahan kimia beracun.

Efek kesehatan yang mungkin terjadi untuk sementara waktu ketika terpapar zat kimia beracun misalnya iritasi pada kulit, sakit. Sedangkan efek yang mungkin permanen misalnya kebutaan, bekas luka dari luka bakar asam, dan lain-lain. Toksisitas akut tersebut sering terlihat dalam beberapa menit atau jam setelah tiba-tiba terpapar bahan kimia yang tinggi.

Adapun untuk efek kronis akan terlihat setelah jangka waktu yang lama. Penjelasan ini tentusaja dapat bervariasi dari beberapa minggu hingga tahun. Hal ini diakibatkan oleh paparan berulang terhadap bahan kimia beracun dalam konsentrasi yang cukup setelah jangka waktu yang lama.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan racun terhadap zat kimia beracun, diantaranya yaitu menggunakannay dalam jumlah minimum jika memungkinkan; pelepasan uap beracun ke tempat kerja harus dicegah.

Hal itu dapat dicapai dengan melakukan penanganan bahan kimia beracun di lemari asam atau menggunakan sistem ventilasi pembuangan lokal; Paparan pribadi dapat dicegah dengan menggunakan alat pelindung diri.

Contoh zat kimia beracun

Meliputi:

  1. Air raksa/Merkuri
  2. Arsenik
  3. Minyak bumi
  4. Hidrogen sulfida
  5. Gas klorin

Itulah tadi penjelasan yang bisa dikemukakan tentang adanya berbagai contoh zat kimia yang bersifat korosif, pengoksidasi, flammable (mudah terbakar), piroforik, dan beracun (toksik).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *